Tahun 1999 "Detik-Detik Yang Mencekam" Oleh : Kayetanus Kolo
Saya baru selesai kuliah Diploma Tiga(D3). Mungkin karena saya sedikit punya kemampuan lebih maka saya diminta oleh kepala SMPK Aurora Kefamenanu untuk membantu mereka di sekolah itu. Sekolah yang memiliki jumlah siswa yang tidak terlalu banyak. Tiap tingkatan kelas hanya satu ruang. Sebagai guru honor di sekolah, oleh kepala sekolah saya diberikan satu ruang kecil di ujung kelas bekas kantor sekolah. Ruangan itu hanya memiliki satu pintu yakni pintu depan. Saya sangat bahagia karena dari semua mahasiswa hanya saya boleh dibilang beruntung karena yang pertama memilki pekerjaan. Perlengkapan dapur yang saya gunakan selama kuliah dan barang-barang lain kini berpindah tempat dari asrama ke ruang kecil itu. Di halaman sekolah ada sebuah sumur yang air selalu ada. Ada satu pohon mangga di sudut ruang yang saya tempati sehingga di kala siang pohon itu dijadikan tempat bernaung. Status saya sebagai mahasiswa meski belum dikukuhkan saat itu berubah menjadi pak guru. SMP Katolik A...