Sube Es Au Fufuk, Usaele Es Au Hanuk Tupat Okan, Fenat Okan (Belis Di Timor-NTT)
Kalimat sederhana yang
tertulis diatas sekaligus sebagai thema ulasan ini merupakan Bahasa dawan
(Timor-NTT). Kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, berarti “di kepala/ubun-ubun
akan jujung, dipundakku akan kupikul.
Dalam tidur akan selalu ku ingat dan saat bangun akan terus bersamanya.
Kalimat ini biasanya terdengar
atau terucap tatkala orang melansungkan acara adat penyerahan belis dan atau
penerimaan belis dalam tradisi Timor. Orang
bijak bilang “ pribadi yang menjunjung tinggi tradisi / adat adalah orang yang
bermartabat. Sedang orang yang tidak tahu adat adalah biadab(Maaf agak kasar).
Mnait noni, belis/pembelian
belis dalam budaya atau tradisi Timor adalah penghormatan terhadap martabat
kaum perempuan Timor dan keluarga besarnya. Sedang orang atau keluarga yang memberi belis
(Nait None) merupakan pribadi yang menjunjung tinggi martabat luhurnya sebagai
pribadi yang tahu adat( Mo.en On Atone bukan mo.en on Mu.it/Hidup sebagai manusia
bukan berprilaku seperti binatang).
Thema tulisan ini secara
lengkap sebagai berikut :
Hai mbe, mini lo ona le I, maut faije fe an nanao, nen be fe an ma mu.i
ten. Tua e fe na oe, oele fe an sasai. Au Sube es au fufuk, u saele es au
hanuk. Lofa tupat okan, fena msa lof okan. Tupat lof um nanejef fenat lof um
nanaubeh.
Kalimat dalam Bahasa dawan ini kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia
adalah “ Inilah kemampuan kami, malam masih berjalan, masih ada hari esok.
Pohon tuak masih mengeluarkan tuak manis/air. Sumber akan terus mengalir.
Diubun ubun / kepala akan kujunjung. Dipundak akan kupikul. Saat tidur maupun
bangun akan terus kuingat.
Pernyataan ini merupakan
pernyataan adat yang kalau dihayati maknanya sangat mendalam. Memberi belis
kepada perempuan yang dinikahi tidak berarti keluarga laki-laki membeli
perempuan itu. Memberi belis adalah pernyataan atau tindakan penghormatan
terhadap martabat luhur kaum perempuan dan keluarganya. Belis adalah ikatan
persaudaraan / jembatan yang menghubungkan keluarga kaum perempuan dan keluarga
laki-laki.
Dalam tradisi Timor umumnya,
belis berupa kerbau atau sapi, muti (inuh), uang perak bertuliskan ratu Belanda
(Wilhelmina) dsbnya. Upacara Penyerahan belis persiapannya luamayan panjang dan
antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang untung dan tidak ada yang rugi.
Sebab ketika keluarga laki-laki menyerahkan belis keluarga perempuan harus
balas (tubes) dan keluarga perempuan harus menyuguhkan yang terbaik bagi semua
yang datang membawa belis.
Dalam tradisi Timor-Dawan,
belis mestinya tidak boleh lunas, sehingga ketika ada hajatan keluarga
laki-laki diundang dan mereka juga mengambil bagian dalam hajatan itu. Atau
alasan mestinya tidak boleh lunas belis agar antara keluarga laki-laki dan
keluarga perempuan masih ada ikatan adat.
Tanus Korbaffo

Komentar