Kupang-Obor Kupang : Viktor Bungtilu Laiskodat " Pulau Sumba dan Timor Penyumbang Terbesar Orang Miskin dan Bodoh".
Pulau Sumba dan Pulau Timor Penyumbang Terbesar Orang Miskin dan Bodoh
Obor Kupang-
Kupang ! Wilayah Pulau Sumba dan Pulau Timor disebut Gubernur NTT Viktor
Bungtilu Laiskodat sebagai dua pulau penyumbang orang miskin dan orang bodoh di
NTT.
Karenanya,
sebagai Gubernur NTT, Viktor akan banyak menghabiskan waktunya di dua pulau
tersebut.
"Gubernur
akan banyak ada di Pulau Sumba dan Pulau Timor. Karena dua pulau itu penyumbang
terbesar orang bodoh dan miskin di NTT," ujar Gubernut Viktor Laiskodat
saat berbicara di acara Syukuran HUT SMP Negeri 6 Nekamese ke 9, Sabtu
(15/8/2020).
Ia
menegaskan, dua Pulau tersebut harus diurus karena saat ini menjadi penyumbang
kemiskinan terbesar di Provinsi NTT.
Ia bahkan
menyebut, berturut turut Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Timur, Sabu Raijua dan
Sumba Barat Daya sebagai daerah yang harus diperhatikan dan diurus
"Kalau
Sumba ini diurus maka pasti berubah," ujar Viktor Laiskodat.
Ia
mengatakan, untuk itu maka pendidikan menjadi hal utama yang harus diperhatikan
dalam pembangunan manusia dan pembangunan wilayah Provinsi NTT.
Dalam
kesempatan tersebut, Gubernur VIktor Laiskodat meluncurkan Program Restorasi
Kebangkitan Pendidikan NTT serta meluncurkan buku karya siswa dan guru SMP
Negeri 6 Nekamese.
Hadir
mendampingi Gubernur, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Linus Lusi,
Kepala Dinas Perdagangan dan Perinduatrian NTT, Kepala BPBD NTT Thomas Bangke,
Karo Humas Setda NTT Marius Ardu Jelamu, staf ahli Bidang Politik Ima Blegur,
Staf Ahli "Kebatinan" Pius Rengka. Hadir pula Wakil Bupati Kupang
Jerry Manafe, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kupang Imanuel Buat.
Dikutip dari POS-KUPANG.COM.
Marius Jelamu,
menjelaskan pernyataan Viktor Laiskodat !
Pernyataan
Gubernur NTT, Viktor Laiskodat yang menyatakan pulau Sumba dan Timor merupakan
penyumbang terbesar orang miskin dan bodoh menuai kontroversi. Pernyataan
politisi Nasdem ini pun viral di media sosial.
Menanggapi itu, Karo Humas NTT, Marius Jelamu menjelaskan, di
balik diksi yang disebut gubernur, ada pesan positif yang disampaikan.
"Diksi itu mengandung ajakan, ayo mari kita berubah dan
memperbaiki diri supaya tidak tertinggal,” jelas Marius Ardu Jelamu dalam
keterangan pers, Selasa (18/8/2020).
Ia mengatakan, kemiskinan dan kebodohan tidak hanya ada di dua
pulau itu, tetapi juga ada di daerah-daerah lainnya di NTT.
"Apa yang dikatakan Gubernur NTT terkait hal tersebut
didasarkan pada data statistik," katanya.
Ia menjelaskan, berdasarkan data penduduk miskin yang dirilis BPS
tahun 2019, total penduduk miskin yang ada di 10 kabupaten di dua pulau
tersebut adalah 619.400 jiwa. Pulau Flores yang terdiri dari delapan kabupaten
punya penduduk miskin sebanyak 367.800 jiwa. Sisanya sebanyak 159.000 jiwa
tersebar di Sabu Raijua, Rote Ndao,Lembata dan Alor.
“Bila kita melihat lebih spesifik lagi. Data statistik BPS pada
tahun 2019, enam Kabupaten dengan jumlah penduduk miskin tertinggi (dalam
ribuan jiwa) masing-masing TTS 130, 3, Sumba Barat Daya 96,3, Kabupaten Kupang
92,0, Sumba Timur 77,4, Manggarai Timur 75,8, Manggarai 69,3," jelasnya.
Untuk 6 kabupaten dengan indeks kedalaman kemiskinan tertinggi
mencakup Sumba Timur 8,57, Sumba Tengah 7,57, TTS 6,68, Sabu Raijua 6,20, Sumba
Barat 5,11 dan Rote Ndao 5,08. Sementara 6 kabupaten dengan indeks keparahan
kemiskinan tertinggi yakni Sumba Timur 3,14, Sumba Tengah 2,20, TTS 2,09, Sabu
Raijua 1,78, Sumba Barat 1,37 dan Rote Ndao 1,33.
"Rata pengeluaran per kapita per bulan dari masyarakat NTT
adalah Rp.373.992 berada di bawah batas garis kemiskinan yang ditetapkan
nasional pada Maret 2020 sebesar Rp. 454.652," sebutnya.
Menurut dia, kemiskinan tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki
keterkaitan dengan indikator-indikator lainnya seperti pendidikan, kesehatan,
infrastruktur, sosial budaya dan indikator lainnya.
“Orang menjadi miskin bisa karena kemampuan untuk kelola potensi
dirinya kurang maksimal, atau karena sumberdaya alam yang ada di sekitarnya
kurang ataupun karena tanahnya tandus sehingga tidak bisa dikelola secara
manual butuh teknologi dengan cost tinggi,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi NTT seperti yang ditegaskan Gubernur NTT dalam
peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus kemarin, tetap berupaya keras
untuk mewujudkan visi NTT Bangkit Menuju Sejahtera walaupun dalam situasi
pandemi Covid-19.
Mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam pendidikan, membangun infrastruktur, memajukan pertanian,
peternakan, perikanan dan kelautan serta pariwisata untuk meningkatkan ekonomi
masyarakat.
“Kita bersyukur ketahanan ekonomi NTT terhadap dampak pandemi
covid-19 sangat kuat. Kalau di triwulan kedua, ekonomi nasional terkontraksi
pada minus 5,32 persen, NTT justru tumbuh 0,96," katanya.
Ia mengajak masyarakat NTT untuk membaca dan memaknai pernyataan
gubernur secara positif sebagai motivasi.
Penulis : Tanus Korbaffo

Komentar