KETIKA ALAM BERKATA LAIN!
KETIKA ALAM BERKATA LAIN!
Oleh : Tanus Korbaffo
Tidak ada seorang manusia di dunia yang ingin celaka,
dambaan besar manusia dari zaman ke zaman adalah kebahagiaan atau sukacita.
Kebagiaan yang menjadi dambaan jutaan ribu manusia di dunia terkadang jauh
panggang dari api.
Hari itu, minggu 10 Maret 2019, ketika seganap umat
beriman di kota Kupang tengah menjalankan ibadah atau misa mingguan dimana
minggu itu bertepatan dengan minggu prapaskah I, kota Kupang di guyur hujan
lebat. Hujan lebat tidak berjalan lama. 30 Menit kemudian keheningan umat
nasrani terpental karena alam manunjukan taringnya.
Angin kencang bertiup dari berbagai arah, menit ke
menit kian membesar. Teriakan histeris membahana, nama Tuhan terus saja keluar
dari mulut sang manusia rapuh. Tumbang,
tumbang dan terus tumbang pohon besar di pinggran jalan atau halaman rumah.
Kendaraan roda empat dan roda dua yang kebetulan melintas tertindih pepohan.
Banyak rumah yang atapnya terbawa angina.
Listrik mati total di sebagaian wilayah kota Kupang,
dikarenakan banyak tiang induk yang patah tertindih pepohan dan jalanan.
Alam adalah alam, ia akan tetap menjadi alam. Alam
sahabat manusia dan sekaligus ibu manusia. Alam mengihidupi manusia. Air,
tanah, api angina ketika kecil ia akan menjadi sahabat manusia, tetapi saat
semakin besar menjadi musuh manusia / pembasmi manusia.
Sampai tataran ini, mungkinkah alam telah bosan dengan
manusia?apakah alam enggan bersahabat dengan manusia? Semoga lewat peristiwa
ini manusia semakin sadar akan kerapuhannya. Manusia sehebat apapun ketika alam
bertindak manusia ternyata sangat kecil.
Bello, 10 Maret 2019
Tanus Korbaffo






Komentar